Pagi hari Idul Adha selalu punya suasana yang berbeda. Udara terasa lebih segar, jalanan ramai lebih awal dari biasanya, dan ada semangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tapi di tengah kegembiraan itu, kadang muncul pertanyaan kecil yang bikin kita ragu — “Sudah benar belum niat shalatku tadi?”
Tenang. Di artikel ini kita bahas tuntas: niat shalat Idul Adha untuk imam dan makmum, tata cara pelaksanaannya, dan sunnah-sunnah yang sebaiknya dijaga agar hari raya kita makin sempurna.
Niat shalat Idul Adha
Pertama, perlu dipahami dulu, niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan. Jadi meski kamu tidak melafalkannya, shalatmu tetap sah selama niat sudah ada dalam hati. Namun melafalkan niat dengan pelan diperbolehkan untuk membantu memantapkan hati. Ini lafaznya:

Tata cara shalat Idul Adha
Shalat Id berbeda dari shalat biasa terutama di jumlah takbir tambahannya. Bagi yang belum hafal, ini panduannya langkah demi langkah:
1. Takbiratul ihram
Mulai dengan takbir pembuka seperti shalat biasa — tangan diangkat sejajar telinga atau bahu sambil membaca “Allaahu akbar”.
2. Doa iftitah lalu 7 takbir tambahan (rakaat pertama)
Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, baca takbir tambahan sebanyak 7 kali. Di antara setiap takbir, disunnahkan membaca tasbih pelan: “Subhaanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.”
3. Al-Fatihah dan surat – rakaat pertama
Setelah 7 takbir selesai, baca Al-Fatihah lalu surat. Imam biasanya membaca Surat Al-A’la pada rakaat pertama.
4. takbir tambahan di rakaat kedua
Setelah berdiri untuk rakaat kedua, baca 5 takbir tambahan sebelum Al-Fatihah. Imam biasanya melanjutkan dengan Surat Al-Ghasyiyah.
5. Salam dan khutbah
Setelah salam, imam menyampaikan dua khutbah. Mendengarkan khutbah hukumnya sunnah muakkad, sangat dianjurkan, jangan buru-buru pulang.
Sunnah-sunnah Idul Adha yang perlu kamu jaga
Shalat Id bukan sekadar dua rakaat dan pulang. Ada banyak sunnah yang membuat hari raya ini menjadi ibadah yang menyeluruh, dari sebelum berangkat hingga kembali ke rumah.

Jadikan hari raya ini lebih dari sekadar shalat
Idul Adha bukan sekadar shalat dua rakaat dan makan daging. Ini adalah hari di mana kita merayakan ketundukan kepada Allah, seperti yang dilakukan Ibrahim AS ribuan tahun lalu. Dan salah satu cara paling nyata untuk merayakannya adalah dengan berbagi.
Kalau kamu belum berkurban, masih ada kesempatan. Munzalan memastikan setiap hewan kurban disembelih sesuai syariat dan dagingnya menjangkau saudara-saudara kita yang paling membutuhkan, termasuk di pelosok Kalimantan Barat yang mungkin belum pernah menikmati Idul Adha seramai ini.
Semoga shalat Idul Adha kita diterima Allah, dan kurban kita menjadi teman di hari kiamat. Taqabbalallahu minna wa minkum.



