Panen Raya Munzalan Farm, Wakaf Produktif Jadi Jalan Menuju Kemandirian Santri

KUBU RAYA – Semangat kemerdekaan diisi dengan karya dan pemberdayaan melalui panen raya melon di Munzalan Farm, Senin (17/8/2026) sore. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menunjukkan bagaimana lahan wakaf dapat dikelola secara produktif sekaligus menjadi ruang belajar bagi santri untuk mengenal pertanian, kewirausahaan, dan kemandirian ekonomi.

Panen raya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar BaitulMaal Munzalan Indonesia dalam mengembangkan ekosistem pemberdayaan yang mengintegrasikan potensi zakat, wakaf, pendidikan, dan kewirausahaan.

Tidak sekadar menghasilkan komoditas pertanian, Munzalan Farm diarahkan menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda, khususnya santri, agar memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk membangun kemandirian di masa depan.

Kegiatan panen raya turut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I., didampingi Ketua DWP Kanwil Kemenag Kalbar, Hj. Salbia Muhajirin. Hadir pula Kepala Bidang Penais Zawa H. Rohadi, M.Si., Ketua dan Pelaksana Tim Kerja Zakat Hj. Emmy Jumartina, M.Si. dan H. Syaiful Rizan, S.HI., Ketua BWI Provinsi Kalimantan Barat, Ketua BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat, serta sejumlah tokoh agama dan jajaran pengurus Baitul Maal Munzalan.

Menghidupkan Wakaf Melalui Pemberdayaan

Munzalan Farm menjadi salah satu contoh bagaimana aset wakaf dapat dikembangkan menjadi lahan produktif yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Melalui pengelolaan yang tepat, lahan wakaf tidak hanya dipertahankan keberadaannya, tetapi juga dioptimalkan agar mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat pendidikan dan pemberdayaan kepada masyarakat.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat Munzalan dalam mengembangkan wakaf sebagai instrumen yang dapat menghadirkan kebermanfaatan lebih luas.

Panen melon menjadi salah satu hasil dari proses tersebut. Namun, nilai utama yang ingin dibangun bukan hanya mengenai hasil panen, melainkan bagaimana proses di baliknya dapat menjadi sarana pembelajaran bagi santri.

Santri Belajar Bertani dan Berwirausaha

Melalui program Akademi Santri Mandiri (ASMI) Pemberdayaan Melon, para santri mendapatkan kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai pengelolaan usaha produktif.

Santri tidak hanya dibekali dengan pendidikan keagamaan, tetapi juga dikenalkan dengan keterampilan praktis yang dapat menunjang kemandirian mereka.

Mulai dari proses pengelolaan lahan, perawatan tanaman, hingga memahami bagaimana sebuah komoditas pertanian dapat dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi produktif.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan santri diharapkan tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi juga melahirkan kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan nyata.

Dari lahan wakaf, santri belajar tentang kerja keras. Dari proses bertani, mereka belajar tentang kesabaran. Dan dari hasil panen, mereka belajar bahwa kemandirian membutuhkan proses yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Kakanwil Kemenag Kalbar Apresiasi Wakaf Produktif Munzalan

Kepala Kanwil Kemenag Kalbar, Dr. H. Muhajirin Yanis, mengapresiasi pengelolaan lahan wakaf yang dilakukan Munzalan melalui Munzalan Farm.

Menurutnya, wakaf perlu terus dikembangkan agar tidak hanya menjadi aset yang bersifat pasif, tetapi mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

“Wakaf jangan hanya kita lihat sebagai aset yang diam, tetapi harus mampu kita hidupkan menjadi kekuatan ekonomi umat. Ketika lahan wakaf dikelola secara produktif, kemudian melibatkan santri untuk belajar bertani dan berwirausaha, maka yang kita tanam bukan hanya melon, tetapi juga kemandirian, keterampilan, dan masa depan,” ujar Muhajirin Yanis.

Ia juga menilai model pemberdayaan seperti Munzalan Farm dapat menjadi contoh kolaborasi antara lembaga keagamaan, pengelola zakat dan wakaf, serta masyarakat dalam menghadirkan program yang memberikan dampak nyata.

Menanam Kemandirian dari Lahan Wakaf

Panen raya Munzalan Farm bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kemampuan untuk berdiri secara mandiri.

Semangat tersebut menjadi salah satu nilai yang ingin dibangun melalui program pemberdayaan Munzalan.

Lahan yang sebelumnya hanya menjadi aset, diolah menjadi lahan produktif. Hasil pertanian kemudian menjadi bagian dari proses pembelajaran. Sementara para santri mendapatkan pengalaman untuk mengenal dunia usaha dan produktivitas.

Munzalan berharap ekosistem seperti ini dapat terus berkembang sehingga semakin banyak santri yang memiliki keterampilan dan keberanian untuk menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi.

Pada akhirnya, panen melon di Munzalan Farm bukan sekadar tentang berapa banyak buah yang berhasil dipetik. Lebih dari itu, panen ini menjadi simbol bahwa ketika wakaf dikelola secara produktif dan pendidikan diarahkan pada kemandirian, maka yang tumbuh bukan hanya hasil pertanian, tetapi juga harapan, keterampilan, dan masa depan generasi umat.

Bagikan Post ini
Buka WhatsApp
1
Butuh bantuan?
Nispi
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 👋
Apa ada yang bisa kami bantu?