Dari Masjid untuk Semua: Praktik Moderasi Beragama Masjid Munzalan Mubarakan dalam Merawat Kerukunan di Tengah Masyarakat Majemuk

Kerukunan di tengah masyarakat yang berbeda agama, suku, dan latar belakang tidak cukup dibangun melalui slogan toleransi. Kerukunan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam konteks ini, kepedulian sosial dapat menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan sekaligus memperkuat kepercayaan antarwarga.

Praktik tersebut dapat dilihat dari berbagai kegiatan sosial Masjid Munzalan Mubarakan di Pontianak. Di tengah lingkungan masyarakat yang beragam agama, masjid tidak hanya menjalankan fungsi ibadah, tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Orientasi kemanusiaan menjadi landasan penting bahwa kebaikan tidak semestinya dibatasi oleh identitas agama, suku, maupun golongan.

Ketika Beras Menjadi Pesan Kemanusiaan

Salah satu kisah yang menggambarkan nilai tersebut terjadi ketika pengasuh Masjid Munzalan Mubarakan memberikan bantuan beras kepada petugas pemadam kebakaran. Dalam sebuah percakapan, salah seorang petugas bertanya kepada sang ustaz, “Ustaz, kenapa ngasih beras ke kami? Kan kami non-Muslim.”

Pertanyaan itu dijawab dengan sederhana, tetapi mengandung pesan moral yang mendalam. Sang ustaz balik bertanya, “Pak, ketika Bapak memadamkan rumah-rumah yang terbakar, apakah Bapak bertanya dulu, ini agamanya apa, rasnya apa?”

Pertanyaan tersebut mengajak kita melihat kemanusiaan dari sudut pandang yang lebih mendasar. Ketika menjalankan tugas menyelamatkan warga dan memadamkan kebakaran, petugas tidak memilih korban berdasarkan agama atau ras. Keselamatan manusia menjadi prioritas. Demikian pula kepedulian sosial: seseorang yang membutuhkan bantuan tidak semestinya terlebih dahulu dinilai berdasarkan identitasnya.

Dalam ungkapan yang lebih reflektif, kemanusiaan dapat meruntuhkan sekat-sekat sosial yang dibangun oleh perbedaan agama dan ras. Bantuan beras itu bukan sekadar pemenuhan kebutuhan pangan, melainkan juga pesan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang patut dihormati.

Kisah ini memperlihatkan bahwa toleransi tidak selalu harus dimulai dari diskusi yang panjang. Ia dapat tumbuh melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus, konsisten, dan tanpa diskriminasi.

Dari Kepedulian Menjadi Kebiasaan Sosial

Semangat tersebut tercermin dalam beberapa program sosial Masjid Munzalan Mubarakan. Pertama, program Tetangga Bahagia, yaitu kegiatan berbagi makanan seperti roti, buah, dan kebutuhan pangan lainnya kepada tetangga secara rutin setiap pekan. Program ini memperkuat hubungan sosial melalui perhatian yang sederhana, tetapi berkelanjutan.

Kedua, program Masjid Makan-Makan, yakni penyediaan makan siang bagi masyarakat sekitar sebanyak tiga kali dalam sepekan. Kegiatan ini menjadikan masjid sebagai ruang yang menghadirkan manfaat langsung bagi lingkungan. Masjid tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya jamaah untuk beribadah, tetapi juga bagian dari ekosistem sosial yang ikut memperhatikan kebutuhan warga.

Ketiga, pemberian beras kepada petugas pemadam kebakaran setiap bulan. Bantuan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap pengabdian mereka dalam melindungi masyarakat. Profesi pemadam kebakaran memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat karena tugasnya menyangkut keselamatan jiwa dan harta benda tanpa memandang latar belakang korban.

Pada masa pandemi COVID-19, semangat serupa juga tampak melalui seruan agar masyarakat yang tidak memiliki beras datang ke masjid untuk memperoleh bantuan. Pesan tersebut menegaskan bahwa dalam situasi krisis, kebutuhan dasar manusia perlu menjadi perhatian bersama. Bantuan kemanusiaan seharusnya menjangkau mereka yang membutuhkan, bukan hanya orang-orang dari kelompok sendiri.

Jika dilihat dari perspektif sosial, kegiatan-kegiatan tersebut berpotensi membangun kepercayaan, memperkuat solidaritas, dan memperluas interaksi positif antarwarga. Dampak semacam ini tidak terbentuk hanya melalui satu kali kegiatan, melainkan melalui praktik kepedulian yang berulang sehingga masyarakat merasakan kehadiran dan manfaat lembaga keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Moderasi Beragama dalam Tindakan Nyata

Kementerian Agama Republik Indonesia menjelaskan moderasi beragama melalui empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi lokal. Dalam kerangka tersebut, praktik Masjid Munzalan Mubarakan terutama relevan dengan dimensi toleransi, yakni menghormati perbedaan dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan kehidupannya dengan bermartabat.

Moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama sendiri atau mencampuradukkan ajaran agama. Moderasi menyangkut cara memahami dan menjalankan agama secara adil, proporsional, serta tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain.

Karena itu, seorang Muslim dapat tetap teguh menjalankan ajaran Islam sekaligus menunjukkan kepedulian kepada tetangga yang berbeda agama. Keduanya bukan hal yang bertentangan. Justru, kepedulian kepada sesama dapat menjadi wujud pengamalan nilai-nilai moral agama dalam kehidupan bermasyarakat.

Praktik ini juga mengingatkan bahwa kerukunan tidak cukup diukur dari ketiadaan konflik. Kerukunan perlu dilihat dari kualitas hubungan sosial, kesediaan saling membantu, dan tumbuhnya rasa aman di tengah perbedaan. Meski demikian, penilaian mengenai dampak suatu program tetap perlu didukung oleh keterangan penerima manfaat, pengelola program, dan dokumentasi kegiatan agar kesimpulannya tidak hanya bertumpu pada satu kisah.

Masjid sebagai Jembatan Kemanusiaan

Pengalaman Masjid Munzalan Mubarakan menunjukkan bahwa lembaga keagamaan memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam merawat kerukunan melalui pelayanan sosial. Roti yang dibagikan kepada tetangga, makan siang yang disediakan, dan beras yang diberikan kepada petugas pemadam kebakaran merupakan bentuk kepedulian yang sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itu terdapat pesan sosial yang penting: perbedaan identitas tidak menghapus tanggung jawab untuk saling menghormati dan membantu.

Di tengah masyarakat majemuk, masjid dapat menjadi jembatan yang mempertemukan nilai keagamaan dengan kebutuhan kemanusiaan. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata seberapa banyak bantuan yang disalurkan, tetapi juga sejauh mana praktik tersebut memperkuat kepercayaan, menjaga martabat penerima manfaat, dan merawat hubungan baik antarwarga.

Pada akhirnya, toleransi tidak harus membuat seseorang kehilangan keyakinannya. Sebaliknya, keyakinan yang dipahami secara dewasa dapat mendorong lahirnya kepedulian yang lebih luas. Sebab, ketika rumah terbakar, yang dibutuhkan adalah pertolongan; ketika tetangga kelaparan, yang dibutuhkan adalah makanan. Dalam situasi kemanusiaan seperti itulah, agama dan ras semestinya tidak menjadi tembok yang memisahkan, melainkan menjadi pengingat bahwa setiap manusia layak diperlakukan dengan hormat dan kasih sayang.

Adam Pratama, S.Fil.I

Penulis adalah mahasiswa Magister Ekonomi Syariah, IAIN Pontianak.

Bagikan Post ini
Buka WhatsApp
1
Butuh bantuan?
Nispi
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 👋
Apa ada yang bisa kami bantu?