Apa itu Halal Bihalal? Sejarah dan Maknanya Dalam Islam

Setiap momen Idul Fitri tiba, umat islam di Indonesia akrab dengan kegiatan halal bihalal. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan saling bermaafan, bersilaturahmi, hingga mengadakan acara kumpul bersama keluarga, teman, atau rekan kerja. Namun, apa sebenarnya halal bihalal itu? Adakah dasar syariat untuk pelaksanaannya? 

Inti dari halal bihalal adalah memperbaiki hubungan antar sesama manusia. Dan hal ini sejalan dengan ajaran islam, yaitu menjaga hubungan baik antar sesama dan saling memaafkan. Artikel ini akan mengulas makna dari halal bihalal, sehingga kita bisa memahami nilai dari pelaksanaan hala bihalal khususnya di Indonesia.

Apa itu Halal Bihalal?

Kata halal dalam bahasa arab berarti seperti benang kusut yang telah lurus dan tidak ada masalah lagi. Sedangkan dalam al-Qur’an, terdapat  kalimat “halalan thayyiba” kata halal disini apabila dianalogikan pada kehidupan sehari-hari ia bermakna seperti berbagai persoalan dan permasalahan kehidupan yang mungkin sempat terjadi di antara orang sekitar, kemudian berhasil terurai dan menghasilkan ketenangan. Setelah mendapatkan ketenangan dalam hidup barulah kemudian kita bisa melakukan segala aktivitas kehidupan dengan baik serta tidak merusak fikiran dan jasad.

Huruf ba’ dalam kata ‘halal bi halal’ memiliki banyak makna, diantaranya; hubungan yang rekat, baik, harmoni, atau hubungan yang saling mendukung

Berdasarkan pemaparan dari Ustadz Adi Hidayat dalam kajian ilmiahnya, ada dua dimensi yang ditempatkan oleh Al-Quran tentang persoalan halal ini, yang pertama hubungan sesama manusia (hablumminannas) dan hubungan dengan Allah (hablumminallah). Kedua hal ini saling melengkapi, ibadah kepada Allah tidak akan sempurna jika hubungan dengan sesama manusia masih bermasalah.

Sebagai contoh, seseorang bisa saja rajin shalat dan puasa tetapi, jika ia menyakiti orang lain dan sulit untuk memaafkan maka kesempurnaan ibadahnya menjadi kurang. Sebab hubungan kita dengan Allah dan manusia, kedua hal ini harus seimbang.

Sejarah Singkat Halal Bihalal

Setelah indonesia merdeka, dan terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Rakyat Indonesia khususnya para pemimpin politik sedang berselisih. Melihat hal ini, Presiden Ir. Soekarno bermusyawarah dengan KH. Wahab Hasbullah membuat kegiatan untuk mendamaikan sesama masyarakat serta meredakan ketegangan politik. Kemudian tercetuslah nama ‘Halal Bihalal’.

Istilah itu muncul untuk menggambarkan proses membersihkan hubungan dari kesalahan dan dosa antar sesama. Kemudian tradisi ini berkembang menjadi kebiasaan masyarakat di semua kalangan. Seiring waktu, halal bihalal menjadi bagian tidak terpisahkan dari Idul Fitri di Indonesia. Biasanya kegiatan ini diisi dengan berjabat tangan dan saling memaafkan.

Dalil untuk Saling Memaafkan

Dalam islam, saling memaafkan adalah amalan yang sangat dianjurkan, berikut beberapa dalil untuk saling memaafkan

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ  اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-nur: 22)

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran: 134

Hal yang paling penting setelah kita memahami tentang halal bihalal, ialah menjaga niat dan keikhlasan. Jangan sampai halal bihalal hanya sekadar formalitas, tanpa adanya kesungguhan dalam memaafkan.




Bagikan Post ini
Buka WhatsApp
1
Butuh bantuan?
Nispi
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 👋
Apa ada yang bisa kami bantu?