Puasa tarwiyah dan arafah merupakan ibadah sunnah yang dikerjakan pada bulan Dzulhijjah, khususnya menjelang idul adha. Kedua puasa ini sangat dianjurkan bagi muslim yang belum berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Haram. Terdapat salah satu hadits yang menyebutkan bahwa puasa tarwiyah dan arafah bisa menghapus dosa sebanyak 1-2 tahun. Walaupun hadits ini tidak mencapai derajat shahih, namun para ulama membolehkan untuk melaksanakan puasa ini dengan tujuan untuk keutamaan amal di bulan Dzulhijjah.
1. Niat dan Waktu Pelaksanaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Puasa tarwiyah adalah puasa sunnah di bulan Dzulhijjah yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Kata “Tarwiyah” berasal dari bahasa arab yang berkaitan dengan persiapan bekal (air) bagi jamaah haji pada zaman sahabat sebagai persiapan menuju Arafah. Sedangkan puasa arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah tepat sehari sebelum Idul Adha. Di mana ini bertepatan dengan pelaksanaan puncak ibadah haji yaitu pada waktu wukuf di arafah.
Di bawah ini, adalah niat Puasa Tarwiyah dan Puasa arafah
Niat Puasa Tarwiyah
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta’ala.”
Niat Puasa Arafah
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta’âlâ.”
2. Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Mendapat pahala kesabaran seperti Nabi Ayub ‘alaihissalam
Dalam salah satu riwayatnya, Abu Hurairah menyampaikan, bahwa;
“Barangsiapa berpuasa pada hari Tarwiyah, maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala kesabaran Nabi Ayub ‘alaihissalam atas musibahnya. Barangsiapa berpuasa pada hari Arafah, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala Nabi Isa ‘alaihissalam,”.
Baca Juga : 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Amalan yang Lebih dari Jihad
“Tidak ada amalan yang lebih mulia dari amalan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Para sahabat berkata, “Tidak pula bisa ditandingi dengan jihad?” “Walaupun dengan jihad. Kecuali jika seseorang keluar berjihad lalu sesuatu membahayakan diri dan hartanya lantas ia kembali dalam keadaan tidak membawa apa pun” (HR Bukhari No. 969)
Menghapus dosa setahun
“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan akan datang. Dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharam) menghapus dosa setahun yang lalu,” (HR Muslim no.1162)
Menurut Ibnul Jauzi hadits ini tidak shahih, karena dalam riwayatnya terdapat salah satu perawi pendusta. Namun, para ulama membolehkan melaksanakan puasa dan amalan lainnya tapi ditujukan untuk meraih keutamaan di bulan tersebut. Bukan karena hadits yang disebutkan di atas.
Sebab Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, bahwa tidak boleh menyandarkan suatu perkara dengan hadits yang dhoif (lemah).
Melakukan Ibadah di hari-hari yang Allah cintai adalah keutaman yang sangat dianjurkan. Semoga kita semua bisa memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan ini dengan melakukan banyak amal ibadah. Untuk mendekatkan diri kita pada Allah, dan menjadi hamba yang lebih bertakwa.





