Persiapan Menyambut 10 Hari Terakhir Ramadhan

Ramadhan terasa begitu cepat, tanpa terasa kita sudah mendekati 10 hari terakhir Ramadhan, yang merupakan fase istimewa di bulan yang penuh berkah ini. Di mana banyak orang yang berlomba-lomba dalam ibadah, merayu Allah dengan ibadah terbaik agar Allah memberikan ampunan padanya. 

Ramadhan mencari mereka yang terbaik, dan Ramadhan tidak mencari mereka yang tidak memberikan yang terbaik. Ramadhan mencari seorang yang betul betul berusaha hingga putaran akhir di bulan Ramadhan. Para ulama menyebut 10 hari terakhir Ramadhan ini adalah masa panen bagi orang-orang yang ingin meraih ampunan Alllah.

Ramadhan adalah perjalanan untuk menjemput ampunan dari Allah. Maka dari itu, penting bagi kita untuk melakukan persiapan khusus agar 10 hari terakhir ini menjadi momen terbaik dalam hidup kita.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشَرَ اْلأَوَاخِـرَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَةً وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya:

“Jika masuk sepuluh hari terakhir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam dan membangunkan isteri-isterinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyambut 10 hari terakhir, hal yang perlu kita lakukan adalah

1. Menjemput ketaatan dan meninggalkan kenyamanan

Memasuki akhir Ramadhan, bukan saatnya untuk mengendurkan ibadah dengan rutinitas dunia, tetapi justru inilah saatnya untuk meningkatkan ibadah. Dari 365 hari, berikanlah waktu 10 hari terakhir ini untuk Allah, dan tinggalkanlah semua kenyamanan. Bangun lebih awal untuk shalat malam, menahan rasa kantuk, dan perbanyak membaca al-qur’an. 

Ketaatan lahir dari kesungguhan kita melawan rasa malas. Ketika tubuh ingin beristirahat, kita justru memilih bangun untuk shalat malam. Ketika ingin bersantai sambil scrolling justru kita memilih untuk membuka mushaf Al-Qur’an. Tidak mengapa menggeser sedikit kenyamanan demi menjemput ketaatan pada Allah.

2. Memaksakan diri meninggalkan maksiat

Hal lain yang tidak kalah penting ialah menjaga diri dari perbuatan maksiat seperti ghibah, mengadu domba, berbicara kata-kata yang tidak pantas atau bahkan menyakiti hati. Jangan sampai karena dosa yang kita lakukan, ibadah menjadi tidak terasa dan sulit untuk menghadirkan hati. Memang tidak mudah meninggalkan maksiat, terlebih sudah menjadi kebiasaan. Maka dari itu, kita perlu memaksakan diri untuk meninggalkannya.

Baca Juga: Amalah Pertenganhan Ramadhan

3. Memastikan diri tidak melakukan tindakan yang menjadi penghalang untuk Allah memberikan ampunan

Setiap dari kita tentu berharap mendapatkan ampunan dari Allah. Namun ada beberapa hal yang justru menghalangi ampunan tersebut Allah berikan ke kita. Di bawah ini ada beberapa perkara yang perlu kita pastikan agar hati kita lebih siap menerima rahmat dan ampunan Allah.
a. Memastikan diri kita tidak menyimpan dendam. Karena ketika kita menyimpan dendam, itu akan menyulitkan kita mendapatkan ampunan Allah.

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya:

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)

Sungguh, memaafkan itu untuk meringankan hati kita. Jika kita ingin diampuni oleh Allah, maka kita perlu belajar untuk memaafkan orang lain.

b. Memastikan diri kita untuk tidak bertengkar kepada keluarga kita sendiri.

تفتح أبواب الجنة يوم الاثنين ويوم الخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلا كانت بينه وبين أخيه شحناء فيقال: أنظروا هذين حتى يصطلحا، أنظروا هذين حتى يصطلحا، أنظروا هذين حتى يصطلحا

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dia dengan saudaranya. Maka dikatakan: ‘Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.’” (HR. Muslim)

c. Memastikan diri kita, jangan sampai ada rasa sombong dan merendahkan siapapun. Karena rahmatnya Allah itu mengalir ke tempat yang rendah bukan ke tempat yang tinggi.

d. Tetap yakin dan berprasangka baik bahwa pasti Allah ampuni dosa kita. Yang terpenting adalah jangan pernah menyepelekan dosa, jangan jadikan taubat kita sebagai permainan. Bermaksiat-taubat, maksiat lagi taubat lagi. Tinggalkanlah maksiat. Tetaplah berprasangka baik pada Allah dan takutlah melakukan dosa.

Bagikan Post ini
Buka WhatsApp
1
Butuh bantuan?
Nispi
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 👋
Apa ada yang bisa kami bantu?