Istiqamah dalam beribadah bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang terus memilih untuk tetap taat setiap hari walaupun rasa lelah menghampiri. Dan faktanya menjaga rutinitas dan target ibadah hingga akhir bulan sering menjadi tantangan tersendiri, serta menjadi kesulitan tersendiri jika tidak dibarengi dengan hal-hal pendukungnya.
Masing-masing dari kita tentu memiliki semangat yang tulus untuk menjaga target ibadah, seperti tahajud setiap hari, mengkhatamkan al-qur’an setidaknya satu kali selama Ramadhan, atau bahkan rutin berbagi menu berbuka dengan orang sekitar. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh dan fikiran semakin lelah, pekerjaan menumpuk, dan fokus kita mulai terpecah. Pada saat inilah konsistensi kita diuji.
Maka dari itu, memahami cara bagaimana menjaga istiqamah hingga akhir Ramadhan sangat penting, agar kita tidak kehilangan momentum terbaik.
Menyadari pentingnya istiqamah
عن سفيان بن عبد الله رضي الله عنه قال: قلت: يارسول الله! قل لي في الاسلام قولا, لا أسأل عنه أحدا غيرك؟. قال: “قل آمنت بالله ثم استقم” رواه مسلم
Artinya:
“Dari Sufyan bin Abdullah radhiyallaahu’anhu, ia berkata: aku berkata wahai Rasulullah ! Katakanlah padaku tentang islam dengan sebuah perkataan yang mana saya tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selainmu. Nabi menjawab: “katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah”. (HR Muslim.)
Ulama mengatakan “Al-istiqamah khairun min alfi karamah” yang artinya, istiqamah itu lebih baik dari seribu karamah. Kalimat di atas menekankan bahwa konsisten dalam ketaatan ialah lebih utama daripada anugerah atau keistimewaan yang Allah berikan kepada manusia yang Dia pilih.
Memang benar adanya bahwa istiqamah itu lebih sulit daripada memulai ibadah, maka keputusan tetap kembali kepada kita. Apakah kita mau mengusahakannya walaupun terseok-seok? Sebab Allah tidak hanya melihat bagaimana hasilnya, tapi juga prosesnya.
Baca Juga: Kenapa Ramadhan Begitu Cepat
Lalu, bagaimana caranya istiqamah?
1. Pahami ilmu dan keutamaannya
Istiqamah tidak mungkin tumbuh tanpa ilmu. Seseorang akan sulit konsisten jika ia tidak benar-benar memahami apa yang ia lakukan dan mengapa itu penting.dan ketika ia memahami nilai dan keutamaannya, maka ia akan melakukannya dengan kesadaran bukan keterpaksaan. Misalnya, ketika kita mengetahui bahwa setiap huruf al-qur’an bernilai pahala sebagaimana hadits dibawah ini.
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَاٌ”
Artinya:
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. (HR. Tirmidzi, no. 2910.)
2. Cari lingkungan yang mendukung
Lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap keistiqamahan. Seseorang yang dikelilingi teman-teman yang rajin shalat berjamaah maka ia akan lebih mudah istiqamah dibandingkan yang lingkungannya lalai terhadap ibadahnya.Rasulullah ﷺ bersabda, “Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
3. Paksa, biasa, butuh
Ada satu pola sederhana dalam membangun kebiasaan yaitu paksakan, terbiasa, kemudian menjadi butuh.
Pada tahap awal, mungkin kita perlu memaksakan diri. “Bismillahi paksakan” untuk melawan rasa malas. Dan jika terus dilakukan maka in syaa allah ia akan menjadi kebiasaan. Kemudian ketika sudah terbiasa dan ibadah tidak lagi dipaksa, pada tahap berikutnya ia berubah menjadi kebutuhan. Yang mana jika terlewat justru hati kita merasa ada yang kurang.
4. Perbanyak doa kepada Allah
Kemudian yang terakhir, mintalah pada Allah karena pada akhirnya istiqamah ialah karunia dariNya. Perbanyaklah doa di waktu-waktu mustajab agar Allah teguhkan hati kita dalam ketaatan “yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik”
Istiqamah itu tanda ikhlas. Sehingga baik dalam keadaan sendiri atau ditempat ramai orang kita tetap beribadah.





