Niat puasa qadha dan puasa sunnah seringkali menjadi topik yang membingungkan bagi banyak umat muslim. Terutama ketika ingin menjalankan puasa di luar bulan Ramadhan. Pertanyaan seputar bacaan niat, waktu yang tepat untuk melafalkan niat, hingga perbedaan antara puasa wajib dan sunnah sering muncul dan menimbulkan keraguan. Kebingungan ini sering muncul terutama saat seseorang ingin mengganti puasa Ramadhan, tetapi juga ingin mendapatkan keutamaan puasa sunnah.
Artikel ini hadir sebagai panduan lengkap dan mudah difahami yang bisa dibaca kapanpun, khususnya di masa sebelum Ramadhan ini dimana menjadi waktu umat muslim untuk meng-qadha puasa (bagi yang memiliki kewajiban). Dengan memahami niat secara benar, ibadah puasa yang kita jalani pun menjadi lebih mantap dan bernilai di sisi Allah ta’ala.
Pentingnya niat dalam ibadah puasa
Dalam islam, niat memiliki peran yang sangat penting dalam setiap ibadah, termasuk puasa. Niat menjadi pembeda antara aktivitas biasa dengan ibadah yang bernilai pahala. Tanpa niat yang benar, ibadah bisa kehilangan makna.
Rasulullah ﷺ bersabda
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa niat bukan sekadar formalitas, melainkan inti dari sebuah amal. Oleh karena itu, memahami niat puasa dengan benar adalah langkah awal sebelum menjalankan ibadah puasa.
Apa itu puasa qadha dan puasa sunnah?
1. Puasa Qadha
Puasa qadha adalah puasa pengganti bagi puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena uzur syar’i seperti sakit, safar, haid, nifas, hamil, atau menyusui. Puasa ini bersifat wajib dan harus ditunaikan sesuai jumlah hari yang ditinggalkan.
2. Puasa Sunnah
Puasa sunnah adalah puasa yang dianjurkan, tetapi tidak wajib. Puasa sunnah ini contohnya:
- Puasa senin kamis
- Puasa Ayyamul Bidh (setiap tanggal 13, 14, dan 15 Hijriyah)
- Puasa Arafah
- Puasa Asyura
- Puasa enam hari di bulan syawal
Karena sifatnya berbeda, maka niat puasa qadha dan puasa sunnah juga memiliki perbedaan yang perlu dipahami.
Niat puasa qadha Ramadhan
Lafaz niat puasa qadha Ramadhan yang umum digunakan adalah :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaa’i fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta’aalaa.
Artinya:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah ta’ala.”
Baca Juga: 5 Kebiasaan baik yang biasa dimulai awal tahun
Waktu niat puasa qadha
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa di malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasai)
Berdasarkan hadits ini, dijelaskan bahwa niat puasa dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Jika seseorang lupa berniat puasa hingga terbit fajar, maka puasa qadha tersebut tidak sah dan harus diulang di hari lain.
Niat puasa sunnah
Secara umum, lafaz niat puasa sunnah adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّة لِلهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an ‘adaa-i sunnatan lillaahi ta’aalaa.
Artinya:
“Aku berniat puasa sunnah esok hari karena Allah ta’ala”
Waktu niat puasa sunnah
Berbeda dengan puasa wajib, niat puasa sunnah memiliki kelonggaran waktu. Niat boleh dilakukan saat malam hari atau di siang hari dnegan syarat belum makan dan minum apapun serta belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak fajar.
Sebagaimana yang Rasulullah ﷺ lakukan. Dari Aisyah ummul mukminin, ia berkata,
“Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kurma, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154).
Perbedaan niat puasa qadha dan puasa sunnah
Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaan mendasar antara niat puasa qadha dan puasa sunnah:
- Berdasarkan status hukumnya: puasa qadha hukumnya wajib dan puasa sunnah hukumnya sunnah (anjuran)
- Berdasarkan waktu niatnya: puasa qadha wajib diniatkan sejak malam sampai sebelum fajar sedangkan puasa sunnag bisa diniatkan saat malam atau siang dengan syarat yang sudah disampaikan diatas.
- Berdasarkan kejelasan niatnya: puasa qadha niatnya harus jelas diniatkan sebagai qadha Ramadhan. Sedangkan, puasa sunnah cukup diniatkan sebagai puasa sunnah saja
- Berdasarkan konsekuensi jika lupa berniat puasa: tidak sah untuk puasa qadha jika niatnya setelah fajar, sedangkan puasa sunnah tetap sah dilakukan saat siang (dengan syarat)
Memahami bacaan niat puasa qadha dan puasa sunnah secara benar akan membantu kita menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan yakin. Semoga panduan ini dapat menjadi rujukan yang mudah difahami.





