Pontianak – Komitmen menghadirkan program pemberdayaan yang inklusif terus diwujudkan oleh LAZ Baitulmaal Munzalan Indonesia melalui kolaborasi bersama Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pontianak. Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam bentuk Program Pelatihan Kemandirian Menjahit bagi Warga Binaan Pemasyarakatan, yang secara resmi dibuka pada Februari 2026 di Pontianak, Kalimantan Barat.
Program ini diikuti oleh 10 warga binaan pemasyarakatan sebagai penerima manfaat tahap awal. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal kemandirian ekonomi setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Pelatihan menjahit ini merupakan bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada aspek mental dan spiritual, tetapi juga pada penguatan kapasitas keterampilan produktif warga binaan.
Bacab Juga: Kolaborasi Munzalan dan Paragon
Kolaborasi Pemberdayaan Berbasis Kepedulian
Program ini menghadirkan pendekatan yang unik dan inspiratif, di mana mentor pelatihan berasal dari kalangan mustahik binaan LAZ Baitulmaal Munzalan Indonesia yang telah memiliki keterampilan menjahit dan pengalaman mengajar. Mentor tersebut, yang akrab disapa Bunda Cece, sebelumnya juga aktif mengajar keterampilan serupa di lembaga pemasyarakatan perempuan.
Kehadiran mentor dari kalangan penerima manfaat yang telah berdaya ini menjadi bukti nyata siklus kebaikan yang terus berlanjut dari mustahik menjadi pemberdaya bagi sesama.
Perwakilan LAZ Baitulmaal Munzalan Indonesia menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari misi lembaga dalam memperluas dampak pemberdayaan ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan.
“Pelatihan ini bukan hanya tentang menjahit, tetapi tentang membuka harapan baru. Kami berharap keterampilan ini dapat menjadi bekal berharga bagi warga binaan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Dilaksanakan Secara Bertahap dan Berkelanjutan
Program pelatihan ini diawali dengan kegiatan pembukaan (kick-off) yang menandai dimulainya proses pembelajaran. Selanjutnya, pelatihan akan dilaksanakan secara rutin satu kali setiap pekan, dengan materi yang disusun secara bertahap, mulai dari pengenalan dasar menjahit hingga praktik pembuatan produk.
Melalui metode pelatihan yang aplikatif, para peserta diharapkan dapat menguasai keterampilan menjahit secara menyeluruh, sehingga memiliki kompetensi yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha maupun pekerjaan di masa depan.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam menghadirkan program pembinaan yang lebih humanis, produktif, dan berdampak jangka panjang. Selain memberikan keterampilan teknis, program ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri, semangat perubahan, serta kesiapan warga binaan untuk kembali berkontribusi positif di tengah masyarakat.
LAZ Baitulmaal Munzalan Indonesia terus berkomitmen memperluas program pemberdayaan berbasis zakat, infak, dan sedekah untuk menghadirkan manfaat nyata bagi umat, termasuk kelompok masyarakat yang membutuhkan kesempatan kedua untuk bangkit dan mandiri.




