Mendidik anak di zaman sekarang memiliki tantangan yang berbeda. Sebab, anak tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, sementara orangtua harus menghadapi tantangan yang mungkin tidak pernah mereka alami ketika seusia anaknya. Seperti smartphone, media sosial, hingga lajunya informasi membuat orangtua perlu memastikan anak mendapatkan pendidikan, dan membangun akhlak yang baik, serta kemampuan mereka menghadapi kehidupan.
Rasulullah ﷺ berhasil membentuk sahabat, dan mereka memiliki karakter kuat bukan hanya dengan memberikan nasihat. Namun, beliau juga mendidik melalui keteladanan, kasih sayang, dan memahami karakter orang yang dididiknya.
Berikut bagaimana Rasulullah ﷺ mendidik sahabat-sahabatnya
1. Menanamkan Iman kepada Allah dan Hari Akhir
Hal pertama yang Rasulullah ﷺ tanamkan kepada sahabat bukanlah shalat, bukan puasa, atau ibadah lainnya tapi ia adalah iman kepada Allah dan hari akhir. Tentang bagaimana dunia menemui akhirnya, tentang balasan tiap-tiap manusia saat di hari pembalasan, tentang bagaimana anak-anak lari dari ibunya dan orangtua lari dari anak-anaknya.
Sehingga dari kesadaran tersebut lahirlah keyakinan bahwa tujuan kita hidup di dunia ialah beribadah kepada Allah dan menjauhi larangannya. Sebagaimana yang tercantum dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
2. Mengenalkan Islam Sejak Dini
Salah satu sosok yang tumbuh dekat dengan Rasulullah ﷺ adalah Ali bin Abi Thalib. Ali sejak kecil berada dalam lingkungan Rasulullah ﷺ dan menjadi alah satu orang pertama yang menerima islam. Kedekatan tersebut menjadi gambaran bahwa anak dapat mengenal nilai-nilai islam melalui lingkungan dan keteladanan.
Orang tua bisa memulainya dengan membaca Al-Qur’an bersama, mengajarkan doa harian, mengajak shalat, hingga menceritakan kisah nabi dengan cara yang menarik.
3. Tanpa Merendahkan
Rasulullah ﷺ memberikan teladan tentang adab yang santun
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ وَلَا لِمَ صَنَعْتَ وَلَا أَلَّا صَنَعْتَ
Artinya:
Anas bin Malik meriwayatkan: “Aku mengabdi kepada Nabi, semoga kedamaian dan berkah Allah tercurah kepadanya, selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekalipun berkata kepadaku, “Uff!” Beliau tidak pernah berkata dengan kasar, “Mengapa kamu melakukan itu?” atau, “Mengapa kamu tidak melakukan itu?” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari hadits di atas secara tidak langsung menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tetap menegur kesalahan tetapi tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk merendahkan seseorang. Contoh di era modern ini ialah tidak baik melabel anak dengan sebutan ‘anak nakal’ sebab perilaku yang salah dapat diperbaiki. Namun, label negatif yang terus diberikan pada anak dapat memengaruhi cara ia memandang dirinya sendiri.
Cara Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses membentuk manusia yang memiliki iman dan akhlak dengan kasih sayang dan tanggung jawab agar kelak ia berani mengambil peran baik di setiap kesempatan. Dan pendidikan terbaik bukan hanya membuat anak sukses di dunia, tetapi juga membantu mereka menjadi manusia yang dekat dengan Allah dan bermanfaat bagi sesama.
Wallahu’alam bishawab.


