Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan. Keberkahan Ramadhan hadir dalam banyak hal, seperti waktu yang terasa lebih bermakna, hati yang lebih mudah tersentuh, dan kesempatan berbuat baik yang seakan terbuka lebih lebar dari biasanya.
Di bulan ini, amal kebaikan dilipatgandakan. Doa-doa lebih sering dipanjatkan. Orang-orang yang mungkin jarang membaca Al-Qur’an, bisa jadi di bulan ini menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an. Bahkan hubungan keluarga pun sering terasa lebih hangat, karena di bulan Ramadhan banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, misalnya pada saat sahur dan berbuka.
Lebih dari menahan lapar dan haus
Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus. Bukan hanya sekadar tidak makan dan tidak minum dalam sehari. Tapi, semua anggota tubuh kita juga ikut berpuasa. Mulut kita tidak digunakan untuk berbicara yang kotor, tubuh kita tidak melakukan kejahatan, serta menjaga adab dengan sesama.
Ketika lapar datang, kita belajar sabar. Ketika haus terasa, kita belajar menahan diri. Dan ketika emosi muncul, kita berusaha untuk tetap tenang. Karena Ramadhan mengajarkan kita untuk mengontrol diri, jangan sampai diri dikendalikan oleh nafsu.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).
Hadits ini menunjukkan bahwa kualitas puasa bukan dinilai dari seberapa mampu kita menahan lapar dan haus. Tetapi juga menjaga akhlak yang baik pada sesama.
Apa yang membedakan Ramadhan dari bulan yang lain?
Ada beberapa keistimewaan di bulan Ramadhan, yang membuat bulan ini sangat spesial. Pertama, pahal dilipatgandakan. Setidaknya pahala ibadah selama Ramadhan diilipatgandakan menjadi 10 kali. Misalnya, sedekah yang mungkin terlihat kecil, shalat sunnah, atau tilawah yang hanya beberapa halaman. Mungkin semua itu terlihat kecil bagi kita, tapi besar di sisi Allah. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila banyak orang yang berlomba-lomba beramal shaleh di bulan Ramadhan.
Kedua, terdapat malam Lailatul Qadar. Satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Apabila dihitung, seribu bulan itu lebih dari 80 tahun. Ini berarti jika kita bisa berjumpa di malam lailatul qadar, maka pahala ibadah yang kita dapatkan pada malam itu sangat amatlah besar. Betapa besar kesempatan yang Allah berikan pada makhlukNya. Sebagai bukti cinta dan kasihNya pada makhlukNya.
Ketiga, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.ini menunjukkan bahwa suasana spiritual saat Ramadhan berbeda. Karena jalan menuju kebaikan sangatlah mudah. Seakan Allah mempermudah langkah kita untuk kembali padaNya.
Baca Juga: Panduan Puasa Untuk Ibu Hamil dan Menyusui
Ramadhan dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Q.S Al-Baqarah ayat 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْققَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”
- HR Ahmad
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ
Artinya: Telah datang bulan Ramadan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR Ahmad)
- HR Tirmidzi
ذَا كَانَ أوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أبْوَابُ الجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
Artinya: Jika awal Ramadan tiba, maka setan-setan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Sedangkan pintu-pintu surga dibuka, dan tidak satu pintu pun yang ditutup. Lalu ada seruan (pada bulan Ramadan): Wahai orang yang menginginkan kebaikan, datanglah. Wahai orang yang ingin kejahatan, tahanlah dirimu. Pada setiap malam Allah swt memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka (HR Tirmidzi).
- HR Bukhari dan Muslim
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).
- HR Ahmad
مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أجْرِ الصَّا ئِمِ لَا يَنْقُصَ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ
Artinya: Barangsiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut (HR Ahmad).
- HR Ahmad
اَلصُّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ اَلصِّيَامُ أيْ رَبِّ مَنَعْتُهُُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتَ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فَيْهِ وَيَقُوْلُ اْلقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِالَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ قَالَ فَيُشَفِّعَانِ
Artinya: Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari” Al-Qur’an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur di malam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat (HR Ahmad).





