Amalan di Bulan Sya’ban Sebagai Pemanasan Menuju Ramadhan

Bulan Sya’ban adalah fase penting yang seringkali hadir tanpa banyak disadari, padahal posisinya sangat dekat dengan Ramadhan. Sya’ban datang sebagai tempat yang seharusnya tempat kita berhenti sejenak, menata ulang niat, dan mempersiapkan diri sebelum memasuki bulan penuh ampunan. Sayangnya, tidak sedikit orang justru melewati sya’ban begitu saja, seolah bulan ini tidak memiliki peran khusus.

Akibatnya, Ramadhan sering disambut dengan kondisi diri yang belum siap. Ibadah terasa berat di awal, pola hidup belum tertata, dan semangat baru muncul setelah beberapa hari berlalu. Sebab itu, penting bagi kita untuk memahami pentingnya bulan sya’ban serta sekaligus mengingatkan diri bahwa meningkatkan ibadah tidak harus menunggu Ramadhan tiba.

Bulan Sya’ban sering terlewatkan

Sya’ban seringkali menjadi bulan yang ‘terlupakan’. Tidak sedikit orang yang melewatinya dengan rutinitas biasa tanpa ada peningkatan ibadah yang berarti. Fokus masih sama seperti bulan-bulan sebelumnya, seolah sya’ban tidak memiliki keistimewaan khusus.

Fenomena ini ternyata sudah disampaikan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ 

“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan.” (HR. Al Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Hadits ini menjadi pengingat bahwa sesuatu yang sering dilalaikan justru berpotensi memiliki nilai besar di sisi Allah. Sya’ban adalah bulan yang membutuhkan kesadaran. Ketika banyak orang yang lengah, justru di situlah peluang untuk memperbaiki diri terbuka lebar.

Baca Juga : Persiapan Ramadhan

Padahal Sya’ban adalah jembatan menuju Ramadhan

Sya’ban sejatinya adalah jembatan yang menghubungkan kehidupan biasa menuju Ramadhan yang penuh rahmat. Bulan sya’ban ini penting agar kita tidak terkejut saat memasuki Ramadhan. Karena apabila kita memasuki Ramadhan tanpa persiapan, ibadah di awal Ramadhan seringkali terasa berat, bahkan menimbulkan rasa lelah secara mental.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan dalam memanfaatkan bulan sya’ban. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syaban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Hadits ini menunjukkan bahwa sya’ban adalah bulan latihan. Puasa sunnah pada bulan sya’ban melatih fisik sebelum berpuasa wajib sebulan penuh, sekaligus melatih hati agar terbiasa dengan suasana ibadah yang lebih intens.

Selain itu, dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda, 

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya:

“Bulan Syaban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dalil ini menegaskan bahwa sya’ban bukan hanya tentang kebiasaan, tetapi juga tentang kualitas amal. Momentum diangkatnya amal menjadi alasan kuat untuk memperbaiki ibadah sebelum Ramadhan tiba.

Memaksimalkan sya’ban sebagai persiapan Ruhani

Agar sya’ban benar-benar menjadi pemanasan menuju Ramadhan, yang dibutuhkan bukanlah target besar, tetapi kesadaran dan konsistensi.

Menata mindset tentang ibadah. Sya’ban mengajarkan bahwa ibadah bukanlah sesuatu yang musiman. Ramadhan memang bulan istimewa, tetapi peningkatan ibadah seharusnya tidak dimulai dan berakhir disana. Dengan menjadikan sya’ban sebagai awal perubahan, kita sedang melatih diri untuk istiqamah, bukan sekadar semangat sesaat.

  1. Mulai meningkatkan ibadah secara bertahap. Tidak perlu langsung dengan target yang besar. Jika belum terbiasa puasa sunnah, bisa dimulai dengan puasa senin-kamis atau puasa di pertengahan bulan (Ayyamul bidh). Jika belum rutin membaca Al-Qur’an, mulailah dengan target kecil namun konsisten, misalnya beberapa halaman per hari.
  2. Memperbaiki kualitas shalat. Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk melatih kekhusyukan, menjaga shalat di awal waktu, dan saat Ramadhan tiba, shalat tarawih dan qiyamul lail tidak terasa terlalu berat.
  3. Membersihkan hati dan niat. Persiapan Ramadhan bukan hanya soal fisik dan jadwal ibadah, tetapi juga tentang kondisi batin. Sya’ban bisa digunakan untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, meminta maaf, dan melepaskan dendam atau iri yang masih tersisa.
  4. Menata mindset tentang ibadah. Sya’ban mengajarkan bahwa ibadah bukanlah sesuatu yang musiman. Ramadhan memang bulan istimewa, tetapi peningkatan ibadah seharusnya tidak dimulai dan berakhir disana. Dengan menjadikan sya’ban sebagai awal perubahan, kita sedang melatih diri untuk istiqamah, bukan sekadar semangat sesaat.


Bagikan Post ini
Buka WhatsApp
1
Butuh bantuan?
Nispi
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 👋
Apa ada yang bisa kami bantu?