Puasa Ramadhan sebentar lagi akan datang menghampiri kita. Bulan yang kita nantikan kedatangannya, bulan yang penuh ampunan, dan bulan yang di mana setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.
Puasa juga bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus. Yang membedakan antara puasa dan tidak ialah terletak pada niatnya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami niat puasa Ramadhan dengan benar.
Karena niat bukan hanya syarat sah, melainkan ia juga fondasi yang kokoh untuk menguatkan ibadah puasa kita.
Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib
Sebelum membahas tentang pentingnya niat, kita perlu mengetahui bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar challenge selama 30 hari tanpa makan dan minum. Tapi ia adalah kewajiban langsung yang datang dari Allah.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah/2: 183)
Ayat ini menjadi dasar yang sangat jelas bahwa puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, seperti baligh, berakal, dan mampu melaksanakan puasa.
Karena puasa adalah ibadah wajib, maka tata caranya pun harys diperrhatikan dengan benar. Termasuk dalam hal niat. Karena niat bukan sekadar formalitas melainkan ia adalah bagian inti dari ibadah itu sendiri.
Baca Juga: Menelan ludah batal atau tidak
Niat adalah kunci sah puasa
Secara sederhana, niat adalah tekad yang ada di dalam hati untuk melakukan ibadah karena Allah. Letaknya ada di dalam hati bukan di lidah, melafalkan niat bukanlah kewajiban, ia boleh dilakukan untuk membantu menghadirkan kesadaran niat dalam beribadah.
Lantas, kapankah waktu yang tepat untuk melakukan niat puasa Ramadhan?
Dalam hal ini, mayoritas ulama berpendapat bahwa niat puasa harus dilakukan pada malam hari, sebelum terbit fajar.
Adapun bacaan niat puasa Ramadhan, sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”
Penting memahami niat dengan benar
Beberapa kesalahan umum yang terjadi di sekitar kita antara lain:
- Niat harus diucapkan keras-keras. Padahal niat itu tempatnya di dalam hati. Tidak perlu dilafadzkan. Mengucapkannya hanya untuk membantu menghadirkan kesadaran.
- Ragu karena tidak bangun sahur. Padahal jika sebelum tidur kita sudah berniat puasa di esok hari maka puasanya tetap sah meskipun tidak sahur.
Pada intinya, memahami niat dengan benar bukan tentang menghafal lafaz. Tapi ini soal menghadirkan hati sebelum kita menghadirkan amal. Ketika niat sudah difahami dengan benar, maka in syaa Allah ibadah akan terasa lebih ringan dan tenang. Tidak ada lagi perasaan ragu, dan membingungkan perkara yang belum difahami secara utuh.
Ramadhan hanya datang setahun sekali. Maka jangan biarkan ia dimulai dengan keraguan. Pastikan niat kita jelas. Karena, dari situlah perjalanan mengumpulkan amalan ibadah selama sebulan penuh akan menemukan maknanya.
Wallahu’alam bishawab.





