Kebiasaan menunda ibadah seringkali berawal dari kalimat yang terdengar sepele, seperti nanti saja kalau kerjaan sudah beres, nanti kalau mood sudah membaik, atau tunggu lima menit lagi aja. Kita tidak merasa sedang menjauh dari Allah, masih shalat, masih berdoa, masih mengaku beriman. Tanpa terasa, kalimat itu terus terulang hingga menjadi pola yang pelan-pelan membentuk karakter hati.
Bagi kita yang hidup di era serba cepat ini dengan tuntutan produktivitas serta kesibukan yang tiada hentinya, menunda ibadah menjadi terasa wajar. Ibadah dianggap bisa dikerjakan nanti, sementara urusan lain harus diselesaikan sekarang. Padahal kebiasaan menunda ini menyimpan kerugian besar bagi hati.
Fenomena “Nanti pas Ramadhan saja”
Ramadhan memang identik dengan suasana yang lebih kondusif untuk beribadah. Waktu di mana masjid-masjid ramai, jadwal lebih teratur, hingga lingkungan yang terasa mendukung. Tidak heran jika banyak orang merasa ibadah akan lebih mudah dilakukan saat itu. Akibatnya, tidak sedikit orang yang dengan kesadarannya menunda ibadah sunnah hingga Ramadhan datang.
Padahal, islam tidak pernah mengajarkan menunda ketaatan dengan alasan menunggu waktu tertentu. Allah justru memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan kapanpun. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah/2:148
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya:
“Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan itu tidak ditunda, apalagi digantungkan pada momen tertentu. Ketika Ramadhan dijadikan satu-satunya alasan untuk berubah, hari-hari sebelumnya seolah kehilangan nilai. akibatnya, Ramadhan datang dengan beban ekspektasi yang terlalu besar. Kita ingin berubah total dalam waktu singkat, padahal kebiasaan menunda masih melekat kuat.
Baca Juga: Bacaan Niat Qadha Puasa
Menunda Ibadah terasa wajar, tapi berbahaya
Salah satu alasan kita merasa aman ketika menunda ibadah adalah karena dampaknya tidak langsung terlihat. Tidak seperti menunda pekerjaan yang jelas konsekuensinya. Seperti teguran keras, denda, atau bahkan peringatan. Sedangkan menunda ibadah, jarang menimbulkan efek yang instan. Namun berbahayanya justru disitu. Hati kita perlahan terbiasa untuk menunda, yang awalnya merasa bersalah ketika melewatkan ibadah sunnah, lama kelamaan menjadi terbiasa. Yang tadinya merasa gelisah ketika menunda shalat, lama kelamaan menjadi biasa saja. Inilah kerugian terbesar dari menunda ibadah, yaitu kehilangan nikmat beribadah diawal waktu.
Menunda ibadah juga sering dilapisi dengan alasan yang terdengar masuk akal, seperti lelah, sibuk, belum bisa fokus dan alasan alasan lainnya. Hal ini manusiawi namun tidak pula dibenarkan. Tanpa sadar, kita membiasakan diri untuk beribadah dalam kondisi yang ideal. Padahal, kondisi ideal hampir tidak pernah benar-benar datang. Karena, ibadah seharusnya menjadi tempat kembali saat kita lelah, bukan aktivitas yang baru dilakukan setelah lelah kita hilang.
Ramadhan seharusnya puncak bukan titik awal
Ketika Ramadhan datang, harusnya ia menjadi puncak dari proses panjang mendekatkan diri kepada Allah, bukan waktu yang tepat untuk baru memulai kebiasaan di bulan ini. Padahal Rasulullah ﷺ sendiri sudah memberikan contoh kepada kita untuk mempersiapkan diri jauh sebelum Ramadhan tiba. Salah satunya ialah dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.
Ini menunjukkan bahwa kebiasaan di bulan Ramadhan tidak datang dengan sendirinya. Ia perlu dilatih dan dibiasakan. Jika sebelum Ramadhan kita sudah terbiasa shalat tepat waktu, meskipun belum sempurna, maka pada saat Ramadhan shalat diawal waktu akan terasa lebih mudah.
Sebaliknya, apabila Ramadhan dijadikan titik awal, maka ibadah akan terasa berat. Kita ingin mengejar banyak hal sekaligus, sementara hati dan tubuh kita belum terbiasa. Akibatnya, semangat beribadah hanya bertahan di awal bulan saja, lalu menurun di pertengahan bulan.
Mulai dulu hari ini!
Maka mulai saat ini, ubahlah kalimat “nanti saja pas Ramadhan” menjadi “mulai dulu hari ini, tidak apa walau hanya sedikit”. Dan penting bagi kita untuk menyadari bahwa menunda ibadah bukan tentang kurangnya waktu, tetapi soal prioritas. Ketika ibadah benar-benar difahami sebagai kebutuhan hati, maka in syaa Allah kita akan selalu menemukan ruang untuk melakukannya.





