Kebiasaan yang Sebaiknya Ditinggalkan Sebelum Ramadan

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Ia adalah momen penyucian jiwa, perbaikan diri, dan pembaruan niat. Karena itu, menyambut Ramadan tidak cukup hanya dengan menyiapkan jadwal sahur dan berbuka. Yang jauh lebih penting adalah menyiapkan hati dan kebiasaan sehari-hari.

Bulan Sya’ban sering disebut sebagai waktu persiapan menuju Ramadan. Di sinilah kita diajak untuk mulai mengevaluasi diri: kebiasaan apa yang perlu diperbaiki, dan kebiasaan apa yang sebaiknya ditinggalkan agar Ramadan dijalani dengan lebih bermakna.

Berikut beberapa kebiasaan yang baiknya mulai ditinggalkan sebelum Ramadan tiba.

1. Menunda-nunda Ibadah

Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan tanpa sadar adalah menunda ibadah, baik shalat, membaca Al-Qur’an, maupun doa. Ramadan menuntut kedisiplinan waktu. Jika kebiasaan menunda masih dibawa hingga Ramadan, dikhawatirkan ibadah hanya dilakukan sekadarnya.

Mulailah membiasakan shalat tepat waktu, memperbaiki kekhusyukan, dan meluangkan waktu khusus untuk tilawah sejak sekarang.

2. Terlalu Sibuk dengan Gawai dan Media Sosial

Tidak bisa dimungkiri, gawai telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun penggunaan yang berlebihan sering menghabiskan waktu produktif dan mengurangi kualitas ibadah.

Sebelum Ramadan, cobalah mengurangi durasi scrolling media sosial, menggantinya dengan aktivitas yang lebih bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, atau belajar ilmu agama. Dengan begitu, saat Ramadan tiba, fokus ibadah sudah lebih terjaga.

3. Bergadang Tanpa Tujuan Jelas

Begadang hingga larut malam tanpa alasan penting dapat membuat tubuh lelah dan sulit bangun Subuh. Padahal, Ramadan membutuhkan stamina dan pola tidur yang sehat, terutama untuk sahur dan qiyamul lail.

Mulai sekarang, atur waktu tidur dengan lebih baik agar tubuh terbiasa bangun pagi dan siap menyambut hari dengan ibadah.

Baca Juga: Menggabungkan Niat Puasa

4. Membiarkan Hati Dipenuhi Dendam dan Emosi

Ramadan adalah bulan pengampunan. Akan sulit merasakan manisnya ibadah jika hati masih dipenuhi amarah, iri, atau dendam.

Sebelum Ramadan datang, luangkan waktu untuk berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Belajarlah memaafkan, memperbaiki hubungan, dan membersihkan hati dari prasangka buruk.

5. Mengabaikan Utang Ibadah

Bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadan sebelumnya, bulan Sya’ban adalah waktu terbaik untuk menunaikannya. Menunda qadha puasa hingga mendekati atau bahkan melewati Ramadan berikutnya bukanlah kebiasaan yang baik.

Menyelesaikan kewajiban lebih awal akan membuat ibadah Ramadan terasa lebih ringan dan fokus.

6. Malas Berdoa dan Berdzikir

Doa dan dzikir adalah penguat hati. Jika kebiasaan ini jarang dilakukan di hari biasa, akan terasa berat ketika Ramadan tiba.

Biasakan membaca dzikir pagi dan petang, memperbanyak istighfar, serta melibatkan Allah dalam setiap aktivitas sejak sekarang.

Menyambut Ramadan dengan Hati yang Lebih Siap

Meninggalkan kebiasaan buruk bukan perkara mudah, tetapi bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Ramadan akan terasa jauh lebih bermakna ketika kita masuk ke dalamnya dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan kebiasaan yang lebih baik.

Bulan suci bukan tempat untuk memulai segalanya dari nol, melainkan melanjutkan proses perbaikan diri yang sudah dirintis sebelumnya.

Ramadan adalah tamu agung yang datang setahun sekali. Menyambutnya dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kurang baik adalah bentuk penghormatan terhadap bulan penuh berkah ini.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan yang tidak bermanfaat, dan memasuki Ramadan dengan jiwa yang lebih siap. Aamiin.

Bagikan Post ini
Buka WhatsApp
1
Butuh bantuan?
Nispi
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 👋
Apa ada yang bisa kami bantu?