Mengapa Bulan Sya’ban Disebut Bulan Persiapan Menuju Ramadhan?

Persiapan menuju Ramadhan sering kali baru terasa penting ketika Ramadhan benar-benar di depan mata. Banyak orang yang merasa harus siap ketika 1 Ramadhan sudah diumumkan atau ketika tarawih pertama dimulai. Padahal, perubahan besar tidak bisa dilakukan secara mendadak. Di sinilah bulan Sya’ban sebenarnya mengambil peran.

Namun sayangnya, Sya’ban justru sering dianggap bulan biasa. Tidak se-istimewa Ramadhan, tidak sepopuler bulan bulan tertentu lainnya. Akibatnya banyak orang yang melewati Sya’ban tanpa persiapan apapun. 

Mengapa bulan Sya’ban disebut persiapan menuju Ramadhan? Hal ini pernah terjadi pada zaman jahiliyah dulu. Di mana masyarakat arab membentuk kelompok-kelompok kecil yang kemudian menyebar ke berbagai tempat untuk mencari sumber air dan kemudian menyiapkan tempat-tempat di gurun pasir untuk menampung air sebagai persiapan untuk memasuki bulan ke-9 di tahun hijriyah yaitu Ramadhan yang termasuk bulan yang panas, terik, dan membakar. 

Ramadhan semakin dekat

Semakin dekat dengan Ramadhan, biasanya semakin banyak harapan yang muncul. Misalnya, ingin lebih rajin ibadah, lebih dekat dengan Al-Qur’an, jadi pribadi yang lebih baik. Namun, seringkali keseharian kita tidak sejalan dengan keinginan tersebut.

Hal yang sering terjadi ialah, kita memasuki Ramadhan tanpa persiapan sehingga kita kagett dengan perubahan pola. Seperti jam tidur berubah, pola makan berubah, aktivitas ibadah bertambah. Ketika semua itu datang sekaligus, wajar jika tubuh dan pikiran merasa kewalahan.

Islam tidak mengajarkan pola ibadah yang memberatkan secara tiba-tiba. Justru Rasulullah ﷺ memberi contoh bagaimana Sya’ban dijadikan bulan pemanasan. Dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha menyampaikan kebiasaan Rasulullah ﷺ  di bulan Sya’ban

 لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah puasa sunnah sebanyak pada Sya’ban.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Sya’ban bukan bulan biasa. Rasulullah ﷺ secara sadar meningkatkan kualitas ibadahnya di bulan Sya’ban sebagai persiapan menuju Ramadhan.

Baca Juga: Niat Puasa Digabung, Apakah Boleh

Banyak orang yang melewatkan Sya’ban

Salah satu Sya’ban sering dilewatkan adalah karena bulan ini kita tidak dituntut apapun. tidak ada kewajiban puasa sebulan penuh atau suasana masjid yang ramai dengan orang yang membaca Al-Qur’an. Akhirnya, rutinitas dan kesibukan menenggelamkan keutamaan Sya’ban.

Padahal Rasulullah ﷺ sendiri menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan. Dalam hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ 

Artinya:

itulah bulan yang banyak dilalaikan manusia, yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i)

Hadits ini terasa sangat relevan hingga hari ini. Bulan yang dilalaikan bukan berarti tidak penting. Justru sebaliknya, ia penting karena sering diabaikan. Banyak orang menunggu Ramadhan untuk berubah, padahal perubahan yang matang lebih baik dimulai jauh hari sebelumnya.

Mari berbenah sebelum Ramadhan datang

Sya’ban disebut bulan persiapan bukan karena sekadar tradisi, tapi karena tuntunan. Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan bahwa bulan ini adalah waktu  meningkatkan ibadah dan membangun kebiasaan.

Hanya tersisa bulan Sya’ban sebelum Ramadhan datang. Maka apabila Ramadhan bulannya memanen, maka  Sya’ban adalah masa untuk menanam. Melewatkan Sya’ban berarti berharap hasil tanpa proses. Memanfaatkan Sya’ban berarti memberi diri sendiri peluang untuk menjalani Ramadhan yang lebih bermakna.

Bagikan Post ini
Buka WhatsApp
1
Butuh bantuan?
Nispi
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 👋
Apa ada yang bisa kami bantu?