Awal Januari 2026 sering terasa seperti tombol reset. Timeline media sosial yang dipenuhi dengan resolusi baru dan semangat yang ingin menjadi versi terbaik dirinya. Adapula yang membuat target-target yang ingin dicapai, seperti kesehatan, karir, keuangan, hingga membangun kedekatan dengan Allah. Sayangnya, tidak sedikit pula resolusi yang hanya bertahan beberapa minggu. Setelah itu, hidup kembali berjalan seperti sebelumnya.
Masalahnya bukan pada niat yang salah, tetapi pada pendekatan yang kurang realistis. Terlalu banyak target besar dipasang sekaligus, tanpa mempertimbangkan kebiasaan lama yang belum berubah. Akibatnya, resolusi terasa berat, melelahkan, dan akhirnya ditinggalkan. Padahal, justru kebiasaan kecil dan konsistenlah yang mampu membentuk hidup lebih tertata, tenang, dan bermakna.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 286
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ
Artinya:
“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.”
Dari ayat ini, Allah mengingatkan kita bahwa Dia tidak membebani hambaNya di luar batas kemampuan. Serta bahwa perbaikan diri seharusnya berjalan sesuai kapasitas diri, bukan sekadar mengikuti tren awal tahun. Boleh saja mengikuti tren, apalagi jika itu termasuk hal yang positif. Hal yang perlu kita lakukan adalah modifikasi target tersebut dan sesuaikan dengan kapasitas diri.
Makna istiqamah dalam islam
Dalam islam, perubahan tidak diukur dari seberapa besar target yang kita pasang, tetapi dari seberapa konsisten kita menjalaninya. Konsep inilah yang dikenal dengan “Istiqamah”. Istiqamah adalah tetap berada dijalan kebaikan terus menerus meskipun dengan langkah kecil dan kemampuan yang terbatas.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Istiqamah bukan tentang seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi seberapa konsisten kita menjaganya. Terlebih dalam hal ini, kebiasaan baik seharusnya dibangun dari hal sederhana. Fokus pada proses, bukan pada hasil yang instan.
Januari sebagai momen restart kebiasaan
Secara psikologis, awal tahun memberikan efek fresh start. Dimana kita merasa memiliki kesempatan baru untuk memperbaiki apa yang tertunda dan yang kurang, serta melanjutkan yang sudah baik. Memulai kebiasaan baik sejak Januari In Syaa Allah membantu proses perubahan terasa lebih ringan. Karena setelah bulan Januari 2026 terdapat bulan-bulan yang penting yaitu Sya’ban dan Ramadhan. Artinya, waktu yang tersisa sebelum Ramadhan bisa dimanfaatkan sebagai masa persiapan, dan tidak menjadikan kita terburu-buru dalam menyambut Ramadhan.
Membahas kaitan antara bulan Sya’ban dan Ramadhan dengan persiapan di bulan Januari. Mungkin beberapa dari kita pernah mendengar bahwa Sya’ban sering disebut sebagai bulan persiapan menuju Ramadhan. Namun, persiapan yang lebih ideal juga dapat dimulai jauh hari sebelumya. Khususnya ketika memasuki bulan Rajab. Karena Rajab adalah waktu menanam kebiasaan, Sya’ban adalah waktu untuk memantapkan, dan Ramadhan adalah waktu memanen dari amalan yang telah dibiasakan.
Baca Juga: Cara Mengenalkan Ramadhan
Amalan dan rutinitas positif yang bisa dibangun dari sekarang
1. Shalat tepat waktu sebagai prioritas utama
Kebiasaan spiritual yang paling mendasar dan perlu dibangun sebelum Ramadhan adalah menjaga shalat. Bukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi berusaha melaksanakannya dengan kesadaran penuh dan tepat waktu. Sebab, shalat yang tertata dapat membantu menenangkan pikiran dan menjadi jeda di tengah kesibukan rutinitas.
Ketika shalat menjadi kebiasaan yang terjaga sebelum Ramadhan, maka meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan tidak terasa berat.
2. Tilawah Al-Qur’an secara konsisten
Banyak orang yang ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an saat Ramadhan, tetappi merasa kesulitan karena belum terbiasa. Oleh karena itu, membangun kebiasan membaca Al-Qur’an sebelum Ramadhan sangat penting. Tidak perlu banyak. Sisihkan waktu 7 menit untuk membaca 1-2 halaman sudah cukup untuk permulaan.
Membaca Al-Qur’an dapat membuat hati kita lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Selain itu, kebiasaan ini juga melatih disiplin dan kelekatan spiritual yang akan sangat terasa manfaatnya saat Ramadhan tiba.
3. Dzikir sebagai obat kecemasan
Dzikir pagi dan petang, istighfar, atau kalimat-kalimat dzikir yang dapat mengingatkan kita pada Allah, dan bisa menjadi kebiasaan ringan yang menenangkan hati serta meredakan kecemasan.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d: 28 yang artinya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
Dengan membiasakan dzikir sebelum Ramadhan, dapat membantu seseorang lebih siap secara emosional menghadapi tantangan puasa, pekerjaan, dan aktivitas harian.
4. Melatih diri mengelola emosi dan overthinking
Kesehatan mental sebelum Ramadhan tidak hanya dibangun dari ibadah ritual, tetapi juga dari kemampuan mengelola emosi. Membiasakan diri untuk tidak mudah marah, mengurangi mengeluh, dan belajar untuk menerima keadaan adalah persiapan mental yang penting.
Salah satunya ialah dengan cara muhasabah singkat sebelum tidur atau merenungkan apa saja yang sudah dilalui pada hari itu.
5. Mengurangi distraksi dan melatih fokus
Mulailah untuk mengurangi kebiasaan yang menguras energi mental, seperti scrolling berlebihan atau mengonsumsi konten yang tidak bermanfaat dan membuat emosi menjadi naik turun dan labil.
Sebab, fokus yang terlatih sebelum Ramadhan akan membantu menjalani ibadah dengan lebih khusyuk dan tidak mudah terdistraksi
Januari 2026 bukan tentang resolusi besar yang melelahkan, tetapi tentang langkah kecil yang konsisten dan dijaga dengan kesadaran. Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Mulailah hari ini, lalu jagalah.





